bulikku istriku


Aku salah seorang korban gempa di Padang. Keluargaku semua meninggal karena gempa di Padang, tempat tinggal pun aku tak punya. Akupun merantau ke Solo ke rumah pamanku. Pamanku, adik satu satunya ayahku, kini merupakan satu-satunya harapan hidupku. Keluargaku dan keluarga pamanku sudah lama sekali tidak pernah berhubungan. Menurut cerita ayahku, paman menikah dengan seorang putri keturunan bangsawan Jawa dan mempunyai 3 putri. Sesampai di Solo aku mencari alamat rumah paman dan tak kusangka kutemui sebuah rumah yang mewah. Pertama kali aku ragu-ragu untuk mengetuk pintunya. Tetapi karena hari sudah malam dan aku tak tahu harus kemana ku beranikan kuketuk pintunya dan keluarlah seorang anak kecil berusia sekitar 7 tahun, yang kemudian memanggil mamanya. Setelah kutanya apakah itu benar rumah pamanku dan ternyata benar sekali. Tetapi dijelaskan bahwa pamanku sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Mendengar hal itu aku memutuskan untuk pergi, dan merantau ke Jakarta. Tetapi bulik Sri, istri pamanku melarang beliau meminta aku tinggal bersama mereka. Aku sempat tidak enak karena mereka berempat cewek semua, tetapi bulik Sri memaksaku justru karena mereka cewek semua itu aku menjadi pelindung dari keluarga pamanku.Dirumah itu aku seperti seorang raja yang dilayani dayang-dayang.
Bulik Sri seorang wanita yang sangatt cantik yang berusia 34 tahun, seorang keturunan bangsawan Jawa, berkulit kuning langsat. Hal ini dimungkinkan krn beliau mempunyai banyak waktu dan uang untuk membiyainya. Warisan dari paman dan keluarganya disimpan dibank dan dari bunganya saja sudah berlebih untuk membiyai hidupnya yang mewah itu. Beliau juga beberapa kali ditaksir pria untuk dijadikan istri tetapi beliau menolak dengan alasan akan berkonsentrasi membesarkan anak.
Yeni berumur 18 tahun duduk dibangku kuliah dan cantik seperti ibunya bahkan kalau mereka berjalan bersama akan disangka kakak beradik.
Yuni anak kedua duduk di SMP dan berumur 14 tahun
Sedang Yani Anak ketiga berumur 7 tahun di kelas 3 SD
Keluarga ini sangat akrab bahkan sangat terbuka membicarakan masalah tabu seperti sex dan lain-lain.
Aku bahagia hidup bersama mereka dan aku disekolahkan di SMA dan duduk dikelas 1, aku dipanggil mas oleh mereka termasuk bulik Sri, semula aku bingung dan canggung dengan panggilan itu. Tetapi demi keakraban aku terima saja.
Dirumah itu aku mulai belajar menyetir mobil sehingga aku menjadi supir sekaligus pengawal terutama bulik Sri. Untuk pekerjaan rumah tangga aku malah tidak boleh mengerjakannya karena mereka yang mengerjakannya dibantu oleh seorang pembantu wanita yang bekerja part time disiang hari
Aku tinggal diloteng bersama anak-anak sedang kamar bulik Sri dibawah. Kamar beliau luas dan dilengkapi pendingin ruangan serta tempat tidur berukir yang luas juga kamar mandi. Aku nggak berani masuk kekamar bulik Sri. Demikian juga anak-anak dan ruangan itu dirawat sendiri oleh beliau.
Suatu pagi Yani masuk kekamarku utk membangunkanku tetapi karena malas aku pura-pura tidur, tidak kurang akal Yani mempelorotkan celanaku dan kemudian berteriak kaget sewaktu melihat burungku dan kemudian lari turun tangga keruang makan dan terjadi keributan kecil karena mereka takut Yani mengalami kecelakaan. Dan setelah tahu duduk perkaranya mereka tertawa. Dan aku menjadi bahan olok-olok sewaktu menyusul turun untuk sarapan. Sore hari waktu aku pulang sekolah setelah aku mandi aku turun kebawah dan makan malam bersama keluarga. Setelah makan malam kami berkumpul diruang keluarga. Sambil ngobrol santai kami nonton TV sementara bulik Sri didapur membereskan piring makan dan menghangatkan makanan. Tiba-tiba mbak Yeni meminta aku memamerkan kemaluanku yang menakutkan Yani tadi pagi. Aku engan mengabulkannya tetapi kemudian mereka mendesakku. Tak lama masuk bulik Sri, beliau langsung menghampiriku dan dengan pelan beliau memelorotkan celana pendek sehingga burungku terpampang jelas didepan mereka sehingga aku malu sekali. Bu Sri berkata kepada putri-putrinya inilah burung masmu yang menghebohkan tadi pagi itu, meskipun besar burung masmu itu tetapi sayangnya masih tidur, ibu akan membangunkannya agar kalian dapat melihat kebesaran burung masmu itu. Bulik Sri menatap mataku seraya membelai lembut burungku, tak lama kemudian burungku mulai bangun untuk menunjukkan kegarangannya. Aku mulai terangsang atas elusan bulikku dan matanya mulai memancarkan sinar yang aneh seperti menahan sesuatu. Anak-anak mulai kagum besarnya burungku itu. Bu lik tidak hanya mengelus tetapi beliau mulai menciumi dan mengulum burungku itu. Tak tahan atas kuluman bulik aku mulai menarik kepala bulik agar lebih dalam mengulumnya. Tidak hanya memnulum tetapi bulik mulai menjilati telurnya. Tak tahan oleh perlakuan bulik aku menekan masuk burungku kedalam-dalam mulut bulik dan memuncratkan manikku ke dalam mulut bulik sehingga bulik hamper tersedak. Bulik lalu menelan sebagian air mani perjakaku dan menumpahkan sebagian ke tangannya dan menunjukkan ke putri-putrinya dan menerangkan bahwa itu yang disebut air mani yang merupakan bibit dari laki-laki. Setelah itu beliau mengusapkan kemukanya dan menerangkan itu merupakan obat awet muda sekaligus mengencangkan kulit muka.
Tak lama kemudian beliau menyuruh kami naik keatas untuk tidur. Aku langsung kekamarku dan berbaring sambil merenungkan kejadian yang baru terjadi. Sampai tengah malam aku tak bisa tidur terbayang benar pandangan bulik Sri yang sendu.
Tengah malam aku mendengar pintu kamarku diketuk, kubuka pintu kamar tampak bulik Sri didepan pintu kamar meminta ijin masuk kamarku. Bulik Sri memakai pakaian tidur yang tipis berwarna hitam sehingga kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat itu. Dibalik pakaian tidur itu kulihat pakaian dalam berwarna putih. Kupersilahkan bulik Sri masuk, yang kemudian duduk diranjangku, beliau minta maaf atas kekhilafan yang baru terjadi dan menanyakan apakah aku tersinggung atas kejadian tadi itu. Aku menjawabnya aku tidak apa-apa atas kejadian itu. Bulik Sri mengatakan bahwa dia juga tidak bisa tidur dan beliau mengatakan apakah aku mau menemaninya ngobrol dan langsung kuiyakan. Kami ngalor ngidul membicarakan kehidupan kami. Mulainya beliau menanyakan kehidupanku di Padang dulu, keadaan disekolah dan kehidupan pribadi lainnya termasuk apakah aku punya pacar dan lain-lain. Sampai semua tentang diriku diketahui semua oleh beliau dan akhirnya bulik Sri kehabisan pertanyaan.
Lama kami berdua berdiam diri sehingga kami canggung berduaan didalam kamar. Karena kecanggung-an itu akhirnya kulihat mata bulik menerawang jauh. Kupandangin terus mata yang sendu itu yang mulai tergenang airmata itu. Kuseka pelan airmata bulik. Tiba-tiba bulik bertanya kepadaku apakah aku mau menolongnya yang langsung kujawab iya bahkan bila sampai mengorbankan nyawaku karena aku tidak bisa membalas budi baik bulik. Dicubitnya tanganku dan dibilang jangan ngegombal katanya. Aku sendiri heran apa yang dibutuhkan bulik yang kulihat sudah sangat berkecukupan itu. Mulai bulik menceritakan penderitaannya membesarkan keluarganya setelah 5 tahun ditinggal paman kabur dengan pria lain. Wafatnya paman ternyata hanya diceritakan didepan putrinya untuk menutupi aib ayahnya. Diceritakan juga bagaimana banyak lelaki yang mengincar hartanya juga tubuhnya dan ia menolak karena akan ditinggal pergi. Juga diceritakan malam-malam yang sepi tidur dikamarnya dibawah sambil bermasturbasi. Bulik tinggal dikamar bawah agar putrinya tidak tahu perbuatan kotornya itu. Kedatanganku merupakan berkah bagi bulik karena akhirnya ada lelaki dirumah itu.
Kutanyakan apa yang aku bisa bantu, bulik mencubitku lagi dan menjawab agar aku mau menyetubuhi-nya malam itu dan bulik mengajakku kekamarnya sekarang. Lalu kugandeng dengan mesra bulik untuk turun kekamarnya. Sewaktu keluar kamar kulihat kamar putrinya sudah gelap menandakan mereka sudah terlelap semua. Aku dirangkul oleh bulik menuju kekamar untuk melakukan persetebuhan kami yang pertama.
Sesampainya dikamar dan setelah mengunci pintu saya melihat bulik mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikkan tubuhnya. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH-nya bermaksud membantu membuka BH-nya, bulik membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH-nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke lantai
"Bulik, susunya boleh saya minum sekarang", tagih saya kepadanya.
Bulik hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Bulik hanya mendesis tidak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat bulik terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya.

Bulik kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. Mungkin karena keasyikan meminum susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba-raba perutnya sedangkan yang kanan mengusap-usap dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Bulik semakin ngos-ngosan. Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari-jarinya ke celana tidurnya yang belum dibuka. Tangan bu lik pun tidak mau kalah, bulik pun mulai mencari-cari sesuatu di selangkangan saya dan setelah menemukannya bulik pijat dengan lembut. Kemaluan saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Bulik yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka reitsleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena bulik tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya.

Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang kejantanan saya dan itu jelas saja membuat saya terbang tinggi, sebab baru kali ini batang kejantanan saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang wanita yang lembut. Bulik makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain di sekitar pusarnya dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang dari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang di depan saya berdiri seorang wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan, tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah terangsang.

Jilatan saya turun agak ke bawah menuju ke kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak-acakan. Saya menjilati liang kemaluannya dari luar CD-nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar bulik tidak sabar dan segera menurunkan CD-nya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidaksabarannya itu, dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat bulik blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke liang kemaluannya. Saya lihat kemaluannya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita maka jilatan saya pun merambah ke liang kemaluannya. Asin! tapi kok enak yah kata saya dalam hati.

Bulik pun kembali mendesis keenakan, "Ahhh... terus Mas", ujarnya. Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba-tiba tubuh Bulik mengejang dan diikuti dengan desahan panjang, "Ahhh... nikmat sekali mas. Pemanasan kamu sungguh hebat." Kemudian dia pun duduk di tempat tidur dengan perlahan. Setelah puas dengan kemaluannya, saya kembali ke atas dan mencoba untuk melumat bibirnya. Bibir yang dari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan-nekan klitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi.

Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan bulik mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang bulik rasakan. Setelah ketemu, kemudian bulik mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan-lahan saya mendorong kepalanya ke belakang agar bulik rebah ke ranjang. Setelah bulik rebah, Bulik mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan bulik kemudian bangkit kembali. Saya terkejut, saya mengira bulik telah sadar dengan siapa bulik sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab bulik kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian bulik malah memasukkan kelamin saya ke mulutnya.

Ahh... terasa nikmat sekali sebab Bulik sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu. Setelah bermain lama di bawah situ, mulutnya kemudian merambah ke atas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tahu bulik baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar bulik tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang menganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap-usap selangkangannya dan terdengar bulik berbisik kepada saya, "Masukkan ahhh... sekarang yahhh, Bulik udahhh kepingin... banget.. nih... ahhh."

Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Bulik agar kembali rebah dan dengan perlahan bulik menuruti kemauan saya dengan rebahan di kasur.
Tangan kanan saya kemudian meremas-remas dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju ke lubang sejuta kenikmatan. Bulik pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya. Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang dari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama bulik tidak tersentuh laki-laki, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah, cengkeraman liang kemaluannya sungguh nikmat, karena saat itu liang kemaluannya sangat sempit dan itu sudah membuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik-turunkan pinggul saya. Saya melihat Bulik mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan bulik juga meggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan maksud agar semua ruang di liang kemaluannya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat bulik mendesah tidak karuan.
Setelah beberapa menit, bulik kemudian memelukku dengan erat dan membalikkan tubuhku dan tubuhnya. Kini bulik sudah berada di atasku, dan gantian bulik yang menaik-turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara. Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan susunya dan mengusap-usap punggungnya.
"Ssaayyaaa... udah ahhh... mau... keeeluar nihhh..." desahnya.
Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu tenaga dalam yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya.
"Saya juga udah mau keluar Bulik...!" desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah.
"Tahann... sebenntaarr..." katanya.
"Biaaarrr... Bulik kee... luar dulu... ouhh..."
Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Bulik kembali mengejang. Dan saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Bulik. Sesaat kemudian Bulik terkulai lemas di atas tubuh saya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena pelumas yang keluar dari liang kemaluan Bulik.

Saya pun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Bulik dengan jilatan di sekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3 - 4 menit Bulik kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya ke dalam kemaluannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan ke dalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok-ngocoknya dengan tangan sendiri. Namun tidak disangka, Bulik kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya. Ahhh... terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya.
Tapi saya tidak melihat bulik melepaskannya, bulik seakan tidak mau melepaskan kemaluanku yang sedang muntah dan bulik menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuh saya habis, batang kemaluan saya pun perlahan-lahan kembali mengecil. Melihat hal itu, Bulik kemudian melepaskan batang kemaluan saya, dan tersenyum kepada saya. Kemudian dia berbisik, "Mas, terima kasih yah, Mbak udah lama nggak menikmatinya, entar lain kali kalau ada kesempatan bisa kan kamu puasin Mbak lagi?" Dengan masih terduduk di kasur saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Bulik. Kemudian kami pun mandi sama-sama, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat.
Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari-hari libur dimana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Cerita Dewasa dengan judul bulikku istriku . Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL http://hasratpria.blogspot.com/2013/03/bulikku-istriku.html . Terima kasih!
Ditulis oleh: esca ivan - Selasa, 19 Maret 2013

1 Komentar untuk " bulikku istriku "